Home > Artikel > KEMISKINAN KOMODITAS UNGGULAN BAGI KOMUNITAS KAPITALIS

KEMISKINAN KOMODITAS UNGGULAN BAGI KOMUNITAS KAPITALIS

Anwar Munthe [Angkatan 2006]

Menguraikan masalah kemiskinan, saya tidak akan menggunakan data-data berapa jumlah angka kemiskinan di Indonesia atau di sebuah Propinsi. Jika menggunakan data-data kemiskinan dari berbagai sumber maka kita akan dibingungkan kesimpang siuran data-data tersebut. Hal itu karena dalam mengukur tingkat kemiskianan lembaga-lembaga riset baik NGO maupun pemerintah menggunakan indikator yang berbeda-beda sehingga dalam pelaporan hasil penelitian pun turut berbeda.  Data kemiskinan memiliki nilai politis, dengan melihat jumlah kemiskinan kita akan bisa menilai keberhasilan pemerintah dalam mewujudkan kesejateraan bagi rakyatnya, jadi sepertinya ‘wajar’ saja jika pemerintah menggunakan indikator yang tidak baku dalam mengukur kemiskinan. Biarlah kawan-kawan yang menilai secara subjektif apakah pemerintah berhasil menurunkan angka kemiskinan di Indonesia berdasarkan apa yang kawan-kawan sasikan dengan mata anda.

Kemiskinan dan istilah-istilah apa pun itu yang menggambarkan kondisi masyrakat yang sengsara,  sudah sangat akrab ditengah-tengan masyarakat. Bahkan dimana masyarakat bermukim, maka disitu kita akan dapat menjumpai kantong-kantong kemiskinan. Kantong-kantong  kemiskinan tidak hanya ada pada masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan, namun wilayah perkotaan pun turut menyumbang kantong-kantong kemiskinan di tanah air ini. Akrabnya kemiskinan di Negara ini seolah-olah sudah menjadi kutukan tuhan yang sangat sulit untuk dirobah. Anggapan ini muncul tidak terlepas dari lamanya rakyat miskin Indonesia menderita penyakit itu.

Pernyataan diatas bukan tidak beralasan, misalnya kita pasti sering mendengar atau mengucapkan istilah ini; wong deso, wong cilik, dan orang udik, kampungan dan lain sebagainya. Bahwa labeling (pemberian julukan, cap, etiket, merek) yang diberikan masyarakat kepada orang-orang miskin menunjukkan bahwa kemiskinan sudah sangat lama mendera mereka dan memunculkan istilah-istilal baru dalam penyebuatan kondisi mereka. Julukan-julukan tersebut telah melahirkan situasi yang sangat sulit bagi mereka dan seolah memosisikan mereka pada status yang permanen.

Untuk menjawab apakah benar kemiskinan merupakan suatu komoditas, saya akan mencoba melihat masalah kemiskinan dengan merujuk teori struktural fungsional. Menurut teori fungsional yang dinyatakan Geoge Ritzer (1985) menyatakan bahwa semua penganut teori ini berkecenderungan untuk memusatkan perhatiannya kepada fungsi suatu faktor sosial terhadap faktor sosial2. Sementara dalam teori yang sama Thomas O’dea (1985) menyatakan bahwa teori fungsional adalah segala yang tidak berfungsi akan lenyap dengan sendirinya. O’dea memisalkan agama, sejak dulu sampai saat ini masih ada, jelas bahwa agama mempunyai fungsi bahkan memerankan sejumlah fungsinya3.

1Penulis adalah mahasiswa IKS 06, M. Anwar Munthe

2M. Arif Nasution Dkk. 2006. Sistem Sosial Indonesia hal: 37

3Thomas O’dea 1985, Sosioloi Agama, Suatu Pengantar Awal.

Berangkat dari teori tersebut dapat dinyatakan bahwa kemiskinan salah satu unsur dalam sistem sosial, artinya keberadaan orang miskin dapat menjaga eksistensi dari unsur lain dalam suatu sistem, dengan perkataan lain bahwa keberadaan orang miskin memperkuat posisi mereka sebagai orang kaya.  Kemiskinan akan tetap ada sampai fungsi kemiskinan itu hilang dalam sistem sosial. Menurut Herbert Gans melihat kemiskinan memilki fungsional dalam sistem sistem. Dalam sistem sosial di Amerika Gans  melihat adanya lima belas fungsi dari kemiskinan yang diredusir menjadi empat kriteria, masing-masing fungsi kemiskinan meliputi: ekonomi, sosial, kultural dan politik.4 Sedangkan Zastrow (2000) berpendapat bahwa sedikitnya terdapat dua belas fungsi kemiskinan bagi kelompok kaya, yakni:

  1. Kaum miskin bersedia melakukan pekerjaan yang tidak menyenangkan.
  2. Kaum miskin dapat membantu kelompok kaya.
  3. Kaum miskin membantu menciptakan lapangan pekerjaan.
  4. Kau miskin  membeli kualitas makanan yang buruk dan tidak layak jual.
  5. Kaum miskin melakukan hal-hal yang menyimpang yang membuat mayoritas masyarakat mengerutkan kening sehingga memperkuat norma-norma yang dominan dalam masyarakat.
  6. Kaum miskin memberikan kesempatan bagi kelompok mampu lainnya untuk mempraktikkan ‘tugas agama’ dalam membantu kelompok yang kurang beruntung.
  7. Kaum miskin memungkinkan mobilitas bagi kelompok lain karena kelompok miskin telah dikeluarkan dari kompetisi untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik.
  8. Kaum miskin memberikan kontribusi bagi kegiatan kebudayaan.
  9. Kaum miskin menciptakan kesenian. Contoh musik reage, blues dll.

10.  Kaum miskin berperan syimbol perlawanan bagi kelompok politik lainnya

11.  Kaum miskin dapat menyerap biaya perubahan (misalnya sebagai koran tingginya tingkat pengangguran sebagai hasil peningkatan teknologi).

12.  Kaum miskin secara psikologis membantu kelompok lain dalam masyarakat untuk membuat mereka merasa baik5.

Sejumlah fungsi-fungsi tersebut diatas menunjukkan kemiskinan merupakan suatu aset bagi kelompok kaya yang menjadikan mereka sebagai sumber keuntungan  untuk terus memperkaya diri mereka dan memperkuat eksistensi mereka. Sepertinya perjalanan kaum miskin masih sangat panjang, mereka harus melalui jalan yang penuh onak dan duri. Lalu apakah mungkin kemiskinan dapat diberantas ditenga-tengah masih banyaknya komunitas yang membutuhkan kaum miskin??? Entahlah, jika ingin merubah keadaan, setidaknya kaum miskin harus bersatu dan berjuang dalam merubah sistem dan struktur sosial yang ada. Ini berarti bahwa kaum miskin harus siap menerima konsekuensi yang didapat dari perjuangan itu.

4George Ritzr, 1985, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Hal 27

5Edi Suharto 2007, Kbijakan Sosial Sebagai Kebijan Publik, Hal: 81-82

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: